Selasa, 31 Maret 2015

Kertas Seribu Impian

Kertas Seribu Impian
                Keajaiban itu, berawal saat siswa baru yang bernama Erick menginjakkan kakinya di sebuah sekolah unggulan di kabupatennya. Dan, dia siswa yang kumaksud adalah aku, diriku sendiri, dengan tekad yang kuat untuk menuntut ilmu di sekolah ini. Aku mulai membuat jejak-jejak mimpiku. Setelah disambut dengan hangat oleh kakak dan abang senior di sekolah, aku mulai menuliskan mimpi-mimpiku pada dua lembar kertas dan aku tempelkan pada dinding kamar ku.
                Pada suatu ketika ada temanku, tepatnya tetanggaku yang sebaya dengan ku, dan dia adalah teman sepermaiananku dari aku kecil yang datang bermain-main ke kamarku dan mereka melihat dua lembar kertas yang tertempel dinding tersebut, mereka membaca isi dari dari dua lembar kertas tersebut yang berisikan impian-impian yang dituliskan olehku. Mereka menertawaiku dan  berkata padaku “hahaha, sudahlah rick … itu kan cuman khayalan kamu aja”, ujar mereka dengan ekspresi menyindirnya. Tapi aku  menjawabnya dengan santai, dengan gaya khas ku yang terkesan cuek  “gak apa-apa kok sob, siapa tau suatu hari nanti jadi kenyataan”,.  Mereka tiba-tiba terdiam, seakan-akan  tersadar akan semangatku yang besar dan mereka pun akhirnya memberikan ucapan dukungan untuk ku “oke deh rick semoga aja impianmu itu bukan jadi pajangan belaka”, “oke sob, terima kasih atas dukungan kalian” sahut ku.
                Selain mereka yang mendukung ku bahkan terkadang saudara-saudaraku mencemooh bahkan mengejek tulisan ku itu. Namun aku tak perduli akan hal itu. Aku tetap bersemangat menggapai impian-impianku dan bertekad dalam hatiku “mimpi itu tidak dapat digapai jika bukan
                Tanpa ku sadari setelah hampir satu tahun aku memajang dua lembar kertas tersebut, hanyalah menjadi sebuah coretan. Mengapa hanya menjadi coretan? karena aku telah menggapai satu persatu harapan serta impian yang telah aku tuliskan dari sekian banyak lagi hal yang aku cita-citakan pada dua lembar kertas tersebut yang kini sudah mulai usang serta banyak coretan yang telah aku goreskan pada kertas tersebut.
                Ada satu impian yang tertulis pada dua lembar kertas tersebut yang dapat membuat aku terkesan dan sangat membekas dalam benakku, yaitu di saat aku berhasil memenangkan olimpiade tingkat kabupaten bidang study Fisika. Dan aku menjadi orang dimana teman-temanku menanyakan tugas-tugas fisika padaku.
                Nilai-nilai  ujianku selalu memuaskan dan aku selalu mendapatkan peringkat yang lumayan bagus disekolah. Terkadang saya berpikir, saya adalah anak orang  biasa-biasa saja, dari keluarga yang sangat sederhana, namun saya berani bermimpi. Namun, ada satu pepatah yang menginspirasi saya “Beranilah bermimpi karena, jika kita berani bermimpi matahari yang sangat panas itu dapat kita genggam”. Aku berharap bahwa kelak diriku mampu memotivasi bahkan menginspirasi banyak orang untuk mengikuti jejak-jejak mimpiku dalam melakukan hal-hal yang mungkin kita sendiri tidak akan dapat mengukurnya.
                Dan itu masih satu dari sekian banyak lagi impianku. Aku bahagia karena dapat melakukan semuanya apa adanya, dengan keterbatasan ekonomi keluargaku, orangtuaku tetap bersemangat menyekolahkan dan menghidupi kami anak-anaknya, bahkan kedua saudaraku yang lebih tua dariku bisa melanjutkan pendidikannya kejenjang Universitas.
                Aku bangga pada keluargaku, dan aku mensyukuri apa yang ada padaku. Dan aku berharap kelak suatu saat nanti, satu persatu dari sekian banyak impian dan cita-citaku dapat ku wujudkan menjadi nyata, dan membuktikan kepada dunia bahwa aku mampu. Tidak peduli seberat apa, dan tidak peduli sekejam apa dunia ini akan menghalangi impianku, aku akan tetap berjuang untuk mendapatkannya.
                Memang finansial merupakan salah satu pendukung keberhasilan, tapi bagiku keterbatasan ekonomi keluargaku bukanlah tolak ukur bagiku untuk selalu bermimpi. Dan disini, saat ini, aku akan selalu bermimpi dan berusaha untuk membuat semuanya lebih baik lagi. Karena aku bahagia untuk berjuang melawan keterbatasan, tidak peduli akan seberapa sering nantinya aku gagal. Karena bagiku, kegagalan adalah kemenangan yang tertunda.
                Dan tulisan dua lembar yang kupajang itu menjadi sebuh doa yang kubacakan setiap hari, setiap kali aku melihat dan membacanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar